50 Tahun Tragedi Munich

08Feb08

Di suntin (halah) diambil dari detiksport.com

Liza Arifin – detikSport

London – Di tribun selatan Old Trafford, di atas dekat pintu masuk tim ke stadion, ada satu jam tua dari jaman perang kokoh menempel dinding. Jam itu mati tepat menunjuk pada jam 15:04.

Limapuluh tahun lalu, tepat pada jam itu, satu tragedi terjadi, yang kemudian menjadi awal legenda sebuah klub bernama Manchester United

Sejarah mencatat bagaimana satu kecelakaan pesawat di Munich, Jerman, menewaskan 23 penumpangnya, dan delapan di antaranya adalah pemain Manchester United.

Sebagaian dari delapan pemain itu adalah yang terbaik yang ada di Inggris saat itu. Roger Byrne adalah kapten timnas; Tommy Taylor dianggap sebagai ujung tombak terbaik bahkan hingga saat ini; David Pegg dan Mark Jones menjelang bermain untuk pasukan St George Cross.

Bintang segala bintangnya tentu saja gelandang bertahan Duncan Edwards. Mereka yang pernah menyaksikannya bermain menyebut dialah pemain terbaik yang pernah dilahirkan Inggris Raya. Gambaran superlatif seperti tak ada habisnya diatributkan padanya.

Sir Bobby Charlton yang selamat dari kecelakaan itu dan menjadi bintang saat Inggris memenangi Piala Dunia 1966, menyebut Edwards adalah satu-satunya pemain yang membuat ia minder, baik dari segi skill, fisik, maupun kepemimpinan di lapangan.

Para wartawan membandingkan Edwards dengan beberapa pemain kontemporer MU sekaligus: sundulan kepala Nemanja Vidic, tendangan Wayne Rooney, operan Paul Scholes, tenaga Roy Keane, dan kepemimpinan Bryan Robson. tulah kualitas Duncan Edwards.

Karenanya tragedi kematian itu tidak hanya ditangisi oleh pendukung MU, tetapi juga Inggris. Mimpi Piala Dunia Inggris seperti sirna bersama kematian itu.

Mereka semua mati muda sebelum kemampuan mereka menyentuh puncak. Itulah sebabnya para wartawan menggunakan kata Busby Babes, bocah-bocah Busby, merujuk pada Sir Matt Busby sebagai pelatih MU saat itu. Itulah nama yang melekat paten untuk salah satu kelompok pemain terbaik klub Inggris yang pernah ada. Publik sepakbola hanya bisa membayangkan kehebatan mereka, dan mempercayai lewat kata-kata mereka yang pernah menyaksikan tim ini bermain. Atau juga sedikit rekaman kabur hitam putih dari jaman pasca perang dunia II.

Kemunculan Busby Babes saat itu memang membuat keder Eropa. Merekalah tim pertama Inggris yang berlaga di ajang Piala Champions setelah dua kali berturut-turut menjuarai Liga Inggris. Keikutsertaan pertama tahun 1956/1957 membawa mereka ke semifinal kalah dari Real Madrid, yang kemudian menjadi juara. Tahun berikutnya mereka difavoritkan bahkan oleh Real Madrid sendiri yang saat itu sedang menjadi raja diraja Eropa. Tetapi seperti diketahui, kecelakaan itu terjadi tak lama setelah mereka memastikan diri ke perempatfinal.

Selama beberapa tahun kata-kata paling populer di kalangan bukan hanya pendukung MU tapi juga persepakbolaan Inggris adalah seandainya dan jika saja, merujuk kepada potensi Busby Babes ini. Bahkan hingga kini kata-kata itu seperti abadi terlekatkan pada mereka. Tentu saja semuanya bersifat hipotetis karena siapa yang bisa memastikan apa yang akan terjadi seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi.

Namun tragedi juga bisa menyalakan sesuatu yang lain. Kalau mau jujur, mimpi untuk menghidupkan kembali Busby Babes adalah kredo yang menjadi semacam filosofi dasar dari keberadaan MU sejak saat itu hingga kini. Fondasi yang digariskan Sir Matt Busby menjadi cetak biru bagaimana klub ini bermain ataupun membina pemainnya.

Misalnya untuk sebisa mungkin menjadikan pemain Inggris, utamanya lagi anak sekitar Manchester sendiri atau setidaknya didikan akademi MU sebagai urat nadi tim.

Menampilkan sepakbola yang atraktif, tidak semata-mata meraih kemenangan sebisa mungkin dijaga. Matt Busby selalu mengatakan penonton datang utamanya karena ingin dihibur. Adalah kewajiban para pemain untuk menampilkan permainan yang menarik. Apalagi rata-rata penonton bukanlah mereka yang berkantong tebal. Para pemain pun diminta berempati dengan khalayak kebanyakan ini.

Akademi sepakbola MU lebih dari klub manapun, ditata dan dirancang untuk memberi pasokan yang diharapkan bisa melahirkan pemain-pemain sekualitas Busby Babes.

Yang tak kalah penting dari tinggalan tragedy Munich adalah besarnya suporter. Tragedi itu menghadirkan simpati kolektif diseluruh negeri. Simpati besar-besaran itu berubah menjadi dukungan besar-besaran dan lahirlah suporter yang tidak lagi hanya berbasis di Manchester tetapi ke seluruh negeri. MU menjadi satu klub dengan jumlah supporter terbesar di Inggris Raya.

Tragedi itu menjadi awal dari terbentuknya brand Manhester United seperti yang dikenal di dunia sekarang. Besarnya dukungan itu dieksploitir sedemikian rupa untuk mendatangkan kekuatan finansial guna menghidupi klub, tapi juga menjadi daya tarik untuk menarik pemain-pemain terbaik agar mau bermain untuk “Setan Merah”.

Bahkan sekarangpun setiap pemain MU, terutama pemain-pemain asingnya, masih diperkenalkan arti pentingnya Busby Babes, tragedy Muenich, dan filosofi dasar tanggung jawab pemain yang digariskan Sir Matt Busby. Layaknya pelajaran sejarah sekolah yang harus dicerna.

Para pemain seperti diminta untuk menghapus perbendaharaan kata seandainya dan jika saja yang ada pada mereka yang tewas di Munich, dengan menampilkan yang terbaik di lapangan sekaligus menghibur. Mereka diminta mewujudkan mimpi Busby Babes yang terpotong secara tragis oleh garis nasib.



No Responses Yet to “50 Tahun Tragedi Munich”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: